Friday, 18 Sep 2020
Buku Dedahan

Buku tanpa Bahas Selangkangan Ibarat Masakan tanpa Micin



Halaman Sampul Buku

Tempat Terbaik di Dunia: Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta, sebuah buku yang sangat cocok untuk sekali menjadi bahan bacaan anda. Syukur-syukur kalau buku itu kalian beli, bukan pinjam apalagi nyolong dari perpustakaan antah berantah. mengapa saya katakan buku ini cocok sekali untuk menjadi bahan bacaan anda ? karena anda pasti tidak akan mau membagi lembaran yang berisi catatan tubuh anda, mulai dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki kalian, tidak terkecuali bagian selangkangan yang menjadi fokus utama pembahasan dijamah oleh orang lain. Begitulah kira-kira alur pembahasan buku ini selayaknya menapaki tiap jengkal keeksotisan tubuh manusia dan menjadikannya objek wisata yang seksi bagi para Antropolog

Warga Bantaran Kali seringkali mendapati dirinya berkubang dalam pusaran stigma buruk sebagaimana halnya stigma itu melucuti pakaian mereka satu persatu tanpa menyisakan apapun. Kemudian, anda akan menyadari bahwa keadaan mereka sama dengan kita, sama dengan para pejabat lokal, hingga bahkan lika-liku kehidupan yang kita semua jalani : kemiskinan, pejabat tukang palak, obsesi berumah gedong di Pakuwon, banjir, polusi, seks, obat yang mahal, biaya seragam sekolah yang tidak kalah mahal dan bermacam-macam kompleksitas permasalahan yang warga Bantaran Kali juga hadapi

Gemerlap Kota Jakarta, ibukota negara laiknya lampu yang terang benderang bagi para ngengat. Semua orang berbondong-bondong memenuhi tiap sudut kampung sembari berharap mendapat pekerjaan yang layak, kenaikan status sosial, penghasilan yang besar, tambahan pembangunan rumah gedong di kampung, atau bahkan seorang jodoh

Dalam buku antropologis ini jangan harap anda akan menjumpai pertanyaan commen sense kalau sedang berbicara kebudayaan, seperti “kebudayaan apa yang paling unik dari daerah anda ?”. Karena sang antrpolog akan selalu menanyakan “apa yang anda perjuangkan di Bantaran Kali ?” beserta  kata kunci yang paling sering muncul dan akan anda temui dalam buku ini yaitu tentang persoalan bertahan hidup.

Bantaran Kali menjadi nama yang sengaja dipilih oleh Roanne van Voorst agar segala hal yang ia dokumentasikan tidak dapat digunakan oleh pejabat lokal untuk menjustifikasi persoalah daerah kumuh di Jakarta sebagai sumber masalah dan gudang segala kejahatan di Jakarta sebagaimana dengungan anggapan para pejabat lokal (hlm 1)

Pembahasan paling menarik dalam buku ini tentu saja pembicaraan terkait selangkangan. Misalnya, ketika Enin dan Neneng bercerita tentang sebuah obsesi yang membudaya di masyarakat kita tentang vagina yang rapat dan wangi, atau tentang bagaimana cara seorang laki-laki memperoleh kepuasan di ranjang.

Roanne mengatakan kalau penelitian yang ia lakukan bersifat Observasi-Partisipatif (hal. 126), artinya studi lapangan yang dilakukannya tetap berjarak, namun juga mengambil banyak peran di tengah-tengah objek penelitiannya. Misalnya sebagaimana tergambar dalam cerita Neneng, “bekerja jadi PSK itu haram, semestinya orang malu melakukan itu” nasihat Marco – anak Neneng dari Almarhum Suaminya – menasihati Neneng. Kemudian, Neneng pun hanya manggut-manggut saja. “Tapi (menjadi PSK), dapat uangnya gampang sekali. Selain itu… kadang enak juga sih!” (hlm. 118). Kemudian, Neneng bilang wajar kalau Marco berusaha menasihatinya sebab menurutnya ia masih remaja.

Adapula kasus seperti dalam cerita Enin yang menyarankan untuk memakan 3 buah Mangga dalam sehari agar menambah gairah seksual, atau sarannya agar pergi ke ratus vagina buat perawatan yoni wangi. tujuannya untuk mengeringkan vagina dan membuatnya harum (hlm. 124).

“Kalau vagina terlalu becek, laki-laki tak bakal pernah terpuaskan saat bersenggama,” kata Yantri. “makanya, itu sebetulnya untuk kepentinganmu sendiri, karena hanya dengan itu kamu bisa memuaskan suamimu.” Lanjut Yantri.

“Seperti apa sebenarnya perawatan ini?” tanya Roanne suatu ketika di sebuah tempat ratus vagina.

“(untuk) membersihkan vagina Anda sebaik mungkin, menggosok dan menguapinya… vagina Anda tidak akan lembab kembali!”

Roanne juga mengakui bahwa pengetahuan Enin dan Neneng tentang laki-laki jelas tidak terbantahkan, tetapi pengetahuan bagaimana mereka sanggup mengikat laki-laki, Roanne ragu sebab Neneng dalam kasus tertentu menolak sebutan pekerja seks yang dilakoninya itu alih-alih ia lebih suka menyebut dirinya sebagai teman kencan. Menurut Neneng, pekerjaan yang dilakoninya itu tidak melulu soal uang sebab pembayaran dapat berupa apapun termasuk rasa aman yang didapatinya dari beberapa pelanggannya yang berprofesi sebagai polisi

Penting dicatat pula bahwa pembayaran berupa rasa aman itu tidak hanya didapatkan polisi sebagai aparat penegak hukum saja, sebut saja Tikus – seorang yang mengajak dan mengenalkan Roanne untuk menemukan Tempat Terbaik di Dunia – yang sering meminta dan memalak uang kepada warga Bantaran Kali sebagai imbalan atas pekerjaannya dalam mengamankan kampung tersebut

Di lain hal, Roanne juga mencatat mengenai praktik-praktik penyedia jasa keamanan ilegal ini bermain di bermacam-macam sektor, misalnya di pasar atapun di tempat lainnya

Pada akhirnya, obrolan tentang selakangan ataupun “dunia lendir” tentu teramat sangat menarik yang kemudian mengantarkan pembacaan kita terhadap preferensi epik lainnya seperti karya-karya Enny Arrow, Freddie S, ataupun Tara Zagita.  Pokoknya, apapun bukunya wajib ada selakangan! Sebagus apapun bukunya, kalau tanpa selakangan akan membosankan. Ibarat masakan tanpa micin.

Jika dalam kunyahan pertama dan anda tidak ingin melanjutkan. Saya yakin bahwa anda tidak begitu mengenal Indonesia, seperti tidak pernah merasakan sulitnya berurusan dengan pejabat, macetnya kota urban, atau sekedar nongkrong di Dolly dan Kembang Kuning!

Editor : Bang Fu

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.