Saturday, 19 Sep 2020
Prisma Stigma

Momentum



Bandul Newton
Media penunjuk Hukum Kekekalan Momentum

Lagi-lagi kita butuh momentum sebagai pengingat dan penuntut atas perubahan radikal ke dalam sistem yang selama ini hanya ‘membuntut bebek’ pada perubahan zaman tanpa pernah bersiap-siap

Semasa dulu, saat masih mengenakan seragam Madrasah Aliyyah. Persoalan Fisika adalah persoalan yang mengasyikkan untuk dipecahkan, terutama ketika kita bahu-membahu mencari jawaban atas sebuah persoalan yang hadir lewat papan tulis kami. Bak seorang Archimedes yang berteriak kegirangan saat bertemu dengan jawabannya, kami juga acapkali melakukan hal yang sama. Bedanya persoalan kami jelas tidak lebih berat dibandingkan kehidupan beserta permasalahan yang dihadapi Archimedes kala itu. Saat itu, guru fisika kami tengah menerangkan tentang hukum mekanika klasik, dan bisa jadi saat itu kami sangat menikmati penjelasannya.

Jauh di seberang sana kita mendapat kabar duka di Kota Beirut, Lebanon, sebuah ledakan meluluhlantakkan kota beserta kepercayaan masyarakatnya, kemarin Selasa (11/08/20) dalam sebuah surat kabar Kompas disebutkan total ada tiga menteri yang mengundurkan diri karena alasan keteguhan moral yang mereka pegang. Seperti yang dapat ditebak, hal semacam ini jarang sekali (bahkan tidak mungkin) terjadi pada penguasa negeri yang sebentar lagi akan berulang tahun merayakan kemerdekaannya (beserta kegagalannya). Kalaupun mereka ingin mengundurkan diri, tentu tidak akan menguntungkan garis karir politik mereka.

Akibat ledakan tersebut (beserta mundurnya tiga menteri mereka), hegemoni dan kontestasi politik mengalamai perubahan yang signifikan. Orang-orang jelas sulit melupakan nyawa yang telah hilang akibat kelalaian yang merugikan itu. Mereka berunjuk rasa menuntut didasari segala derita yang mereka terima, tapi itu semua masih belum cukup. Mereka juga menuntut agar terjadi perubahan peta politik secara radikal di bangunan pemerintahan mereka sekarang. Akhirnya kita melihat bahwa momentum pasca ledakan menjadi titik balik perubahan radikal yang bisa segera mereka mulai

Bagaimana dengan tirani kita ? ada tirai yang tidak tembus pandang menghadang pemandangan kita melihat bagaimana bangunan pemerintahan dicokol kroni-kroninya. Angka-angka ekonomi terkontraksi (negatif), yang disalahkan pun penurunan daya beli masyarakat. Walaupun kemudian secara umum kita memahami misalnya pemberian tunjangan kepada ASN adalah strategi pemerintah sebagai pemicu untuk mengakataliskan daya konsumsi masyarakat,tetap saja mereka yang berada di bawah tidak dapat ongkang-ongkang kaki seperti mereka yang berada di atas. Akhirnya kita perlu momentum untuk menyibak tirai yang tidak tembus pandang itu.

Dunia Bahasa lokal kita juga mengalami hal serupa, lihatlah misalnya para penyiar, selebriti, youtuber memanjakan para pemirsanya untuk mengajukan standar bahasa ‘keren’ yang resmi mereka untuk menunjukkan bagaimana sebuah kasta bahasa itu ada. Inilah yang kemudian mendorong saya pribadi untuk tidak ikut-ikutan dengan arus kebanyakan orang tersebut. Mungkin semacam melepaskan ‘belenggu’ seperti yang diisyaratkan oleh Arjmin Pane lewat novelnya.

Ajip rosidi, seorang sastrawan besar – yang meninggal 29 Juli lalu – pernah mengulas bahwa pelajaran Bahasa Indonesia kita tidak berhasil, keberhasilan Bahasa Indonesia menurutnya saat itu masih ditopang  oleh keberadaaan Pers. Tentu hal tersebut tidak berlaku sekarang. Sebagai perbandingan, mari kita lihat misalnya tren topik di Youtube. Hampir bisa dipastikan, tren Youtube diisi  beramain-ramai oleh kanal-kanal televisi atau berita yang masih menggunakan gaya selingkung televisi dibandingkan tren-tren alternatif lainnya. Penontonnya pun bisa berjuta-juta. Artinya kontak bahasa masyarakat kita berpusat pada kanal-kanal berita tersebut, jelas ini sesuatu yang perlu disorot melihat bagaimana perkembangan Bahasa Indoenesia kedepannya

Salah satu cara perkembangan bahasa yang pernah dicontohkan oleh Ajip Rosidi dengan dimulai dan dilalui secara lisan yang kemudian di alih wahanakan secara tulisan. Ini yang menurut saya menjadi penting untuk diberikan sorotan. Selama berabad-abad yang lampau, kita tahu misalnya setiap kota memiliki legenda atau cerita rakyat (Folklor) mereka masing-masing, misalnya cerita legenda Tangkuban Perahu atau Candi Prambanan dimana pada sebuah sekuennya bercerita tentang pembuatan artefak atau bangunan yang dilakukan selama semalam. Sekuen cerita ini perlu kita curigai untuk melihat bahwa lebih jauh di dalam terdapat akar geneologis yang sama akibat perkembangan budaya lisan – walaupun saya belum menemukan itu.  Maka, apa yang telah dilakukakan oleh Ajip Rosidi sebenarnya telah meraba secara intens untuk sekedar menunjukkan jati diri akar Bahasa Indonesia.

Akhirnya, lagi-lagi kita butuh momentum sebagai pengingat dan penuntut atas perubahan radikal ke dalam sistem yang selama ini hanya ‘membuntut bebek’ pada perubahan zaman tanpa pernah bersiap-siap

#CriticalDailyReportase

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.