Friday, 10 Jul 2020
Dedahan Jurnal Prisma Stigma Stigma

Sinau Mantiq Bagian 1



KESALAHAN BERPIKIR DAN PENTINGNYA MEMPELAJARI ILMU MANTIQ

Masyarakat pada umumnya kini, gemar sekali “bersilat lidah tanpa kaidah”. Masyarakat sebagai susunan manusia yang saling berhubungan sudah mestinya menyadari keadaan yang jauh dari keharmonisan atau dalam term Islam “Rahmatin Lil Alamin”. (Udin MSU)

Kesalahan berpikir sering dialami manusia tanpa sadar. Hal itu dapat dilihat dari jamaknya fenomena yang terjadi di masyarakat. Seperti: perdebatan di media yang tak ada ujungnya, penilaian mengenai informasi yang lekas dipercayai tanpa tahu dari mana muara sumbernya. Yang membuat riskan, ialah kebiasaan gebyah uyah (generalisasi) dengan cara memberikan klaim definisi terhadap golongan tertentu. Tanpa didahului utuhnya pemahaman dan benarnya penalaran ketika memakai definisi tersebut. Misalnya, menamakan seseorang atau golongan tersebut dengan menggunakan definisi kafir, liberal, syiah, serta beberapa hal sejenisnya.

Kesalahan berpikir telah menjadi kebiasaan di masyarakat. Kian hari hanya membawa masyarakat pada perseteruan. Dan semakin menjauhkan dari persatuan. Masyarakat pada umumnya kini, gemar sekali “bersilat lidah tanpa kaidah”. Masyarakat sebagai susunan manusia yang saling berhubungan sudah mestinya menyadari keadaan yang jauh dari keharmonisan atau dalam term Islam “Rahmatin Lil Alamin”. Permasalahan ini bukan hal remeh temeh, apabila dibiarkan begitu saja dengan sendirinya.

Lebih jauh lagi, sebenarnya kebiasaan yang disebabkan karena kesalahan berpikir ini, dapat melahirkan pola interaksi, gaya hidup, dan produk kebudayaan masyarakat yang tidak mencerminkan identitas kemanusiaan. Kemanusiaan sebagai makhluk berpengetahuan tentunya. Terlebih jika kesalahan berpikir semacam ini, juga menjadi landasan manusia ketika memilih keyakinan serta hal-hal lain yang bersifat prinsipil dalam hidupnya. Pastinya akan lebih banyak dampak negatif yang terjadi melebihi penjelasan di atas sebelumnya. Dirasakan atau tidak ini merupakan kenyataan yang tidak bisa dinafikkan dalam kehidupan modern khususnya di era virtualitas dewasa ini.

Sebenarnya permasalahan yang terjadi di masyarakat sangat disayangkan. Apabila kemampuan alamiah berpikir dari setiap manusia tidak dimaksimalkan untuk menyempurnakan aspek kemanusiaannya. Tanpa ada proses berpikir yang benar dengan metode yang tepat. Manusia akan terus bergerak mengikuti kesalahan berpikir yang tiap tindakannya kemungkinan menuruti keinginan, hawa nafsu, atau hal lainnya yang jauh dari kemurnian dirinya sebagai makhluk berpengetahuan.

Apabila diamati permasalahan ini disebabkan karena budaya kesalahan berpikir yang terjadi di masyarakat. Budaya berpikir yang tidak memedulikan adanya metode, kaidah atau disiplin ilmu tertentu dalam menjalani kehidupan.

Untuk itu salah satu tawaran yang dapat digunakan dalam upaya memperbaiki kesalahan berpikir di masyarakat yakni, dengan ilmu mantiq yang umumnya lebih dikenal dengan ilmu logika. Ilmu mantiq merupakan metode berpikir, yang apabila dipahami serta digunakan dengan benar dapat menyelamatkan manusia dari kesalahan-kesalahan berpikir yang kerap kali dialaminya.

Selain itu, Ilmu mantiq dalam hal ini begitu dirasa penting kehadirannya untuk dipelajari. Karena Ilmu mantiq juga berguna menyusun bangunan pengetahuan melalui proses berpikir dengan konstruksi yang kokoh.

Proses berpikir manusia terdiri dari dua hal; bermula dari majhul (tidak diketahui) menjadi mafhum (tahu), selanjutnya bagaimana pengetahuan itu disusun. Maka ilmu mantiq tidak membahas isi dari pengetahuan secara keseluruhan, melainkan bagaimana pengetahuan disusun dan dibangun dengan kokoh agar tidak terjerumus pada kesalahan berpikir.

 

Agar lebih mudah memahami pembahasan ilmu mantiq, amati contoh umum yang dipakai di bawah ini :

Sokrates adalah manusia= Premis minor

Setiap manusia pasti mati= Premis Mayor

Maka, Sokrates pasti mati= Konklusi

 
Susunan argumentasi di atas banyak sekali dijumpai dalam buku-buku pengantar ilmu mantiq atau logika. Contoh tersebut bertujuan untuk memudahkan pemahaman. Dari segi premis dan konklusi tidak ada pertentangan kata yang dipakai, dari segi mantiq shuri atau logika forma (bentuk) dan mantiq maadi atau logika materi (isi). Maka argumentasi di atas benar.
 

Contoh lainnya yang berbeda :

Apel berwarna merah = Premis minor

Setiap yang berwarna merah itu berani = Premis mayor

Maka, apel itu berani= Konklusi

 

Sedangkan susunan argumentasi contoh selanjutnya mengenai apel merah dan merah itu berani, salah. Karena ada kontradiksi makna yang dipakai antara apel merah dan merah berani. Dari sisi mantiq shuri atau logika forma (bentuk) benar. Namun dari segi mantiq maadi atau logika materi (isi) salah. Penjelasannya, tidak setiap apel itu merah dan juga tidak setiap yang merah itu berani. Apel juga ada yang tidak berwarna merah seperti apel malang berwarna hijau. Kemudian warna merah juga tidak mesti berani melainkan juga berarti berhenti.

Beberapa contoh argumentasi tadi, menjelaskan esensi Ilmu mantiq ialah memeriksa definisi atau argumentasi, melalui metode berpikir yang benar sehingga mengetahui letak kesalahanya.

Ilmu mantiq mempunyai tiga tahapan. Pertama, ilmu mantiq mesti dipahami secara keseluruhan mulai dari pokok pembahasan ta’rif (definisi) dan istidal (argumentasi), aturan, rumus, dan istilah-istilah terkait. Kedua, mematuhi aturan, metode atau kaidah yang berlaku dalam ilmu mantiq secara disiplin.

Ketiga, mengaplikasikan ilmu ini dengan benar. Semua tahapan mempunyai keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan. Karena apabila salah satu dari tiga tahapan ini tidak diikuti akan tetap melahirkan kesalahan berpikir. Bahkan bagi orang yang mempelajari ilmu mantiq ataupun ahli mantiq. Namun sebaliknya, jika tiap tahapannya dipahami dengan utuh dan digunakan dengan teliti dan jelih dapat membuat orang yang mempelajarinya seperti berada di jalan yang lurus atau benar sesuai kaidah ilmu mantiq itu sendiri sebagai metode berpikir yang benar.

Kembali pada permasalahan kesalahan berpikir yang terjadi di masyarakat, maka sudah semestinya hal ini perlu diperhatikan lalu dibenahi. Dengan upaya mempelajari dan mengajarkan ilmu mantiq kepada masyarakat. Masyarakat dapat kembali menjadi kumpulan manusia yang pada hakikatnya mencari kebenaran. Sekaligus terselamatkan dari budaya kesalahan berpikir.

Bersambung ke Logika bagian ke 2

One Comment

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.