Friday, 18 Sep 2020
Dedahan Jurnal Padhang Bulan Padhang Jingglang Prisma Stigma Stigma

Sinau Ilmu Mantiq Bagian II



KEHADIRAN ILMU MANTIQ; MENERIMA ATAU MENOLAKNYA?

“Usut punya usut, kelompok sophis terus hidup dari zaman ke zaman. Walau jasad kaum sophis pergi. Sifatnya tetap ada pada diri siapa saja yang mencirikan kaum sophis seperti penjelasan sebelumnya. Lebih-lebih sekarang eranya pemuja gawai, generasi modern-khayali, dan budaya mie instan” Udin MSU

Terusan dari artikel sebelumnya, logika bagian 1

A. Asal-Muasal Ilmu Logika di Yunani

Kehadiran ilmu mantiq merupakan “ijtihad” para arif Yunani. Sang Syahid Socrates, Plato, dan Aristoteles yang melihat kaum sophis (as-Sufastha’iyyun) memperjual-belikan ilmu dengan murah meriah. Menukar ilmu dengan kepentingan, jabatan, uang, dan tidak jarang dari hasil didikan mereka, lahirlah politisi yang hanya pandai bersilat lidah di Yunani.

Siapa yang tak kenal Pyhro di jagad filsafat, salah satu tokoh kaum shopis yang masyhur. Pyrho terkenal dengan pernyataan ketidakmungkinan manusia memiliki “pengetahuan dan mencapai kebenaran.” Mula-mula Pyrho melemparkan pertanyaan “Apa alat manusia untuk mendapatkan pengetahuan ? alat pengetahuan manusia menurutnya terdiri dari indra dan rasio. Indra hanya menipu manusia, menyebabkan banyak kesalahan seperti indra penglihat, perasa, peraba, pencium.

Misalnya, ketika seseorang melihat pena di dalam gelas cembung berisi air seolah-olah pena itu bengkok, namun nyatanya lurus. Sedangkan rasio tidak jauh dengan indra yang banyak menimbulkan kesalahan juga. Karena ada banyak argumentasi, teori para ilmuwan yang salah.” Apabila alat untuk mendapat pengetahuan saja salah. Dapat dipastikan manusia tidak akan mampu memiliki pengetahuan, apalagi mencapai kebenaran.

Dari pernyataan Pyrho, nampak ciri-ciri kaum shopis. Yang meyakini bahwa manusia tidak mampu memiliki pengetahuan, apalagi mencapai kebenaran. Ciri lain dari kelompok sophis ini, mereka pintar melakukan akrobat pemikiran dengan berbagai cara. Lihai bermain kata, menebar ragu, menabur kebimbangan, dan menyulap pikiran siapapun yang mendengarkan, agar percaya. Bagi kaum shopis, tidak ada kebenaran mutlak. Dan semua hanyalah gugusan kebenaran relatifitas-subjektifitas. Tidak ada ukuran objektif yang dapat menjadi standar umum atau hakikat-hakikat yang tetap (al-haqa’iq ats-tsabitah). Semua tergantung pada cara pandang masing-masing. Ilmu kelompok sophis, njelala (nyatanya) bukan malah membawa kebahagiaan, malah berujung pada kerusuhan atau kekacauan. Salah satu sebabnya ialah definisi yang mereka gunakan tidak jelas; tidak ada ukuran pasti yang mereka gunakan saat berdiskusi. Alias mendefinsikan semau-maunya sendiri.

Saat masyarakat Yunani mengandrungi profesi pengacara, rating kaum sophis semakin meningkat pesat. Namun tak lama kemudian, sang syahid Socrates yang melihat kejadian aneh bin nyeleh (tidak benar), itu mengajak kaum sophis berdiskusi. Socrates menyodorkan kalimat secara lugas “Define your terms” dalam bahasa arab”Haddiddu Alfazhakum ! (artinya, perjelaslah kata-yang kalian gunakan). Kaum shopis diam, tersentak mendengarkan kalimat itu. Rasanya kaum shopis telah dipukul telak. Karena mereka telah mendapati kelemahannya. Motif kaum shopis mulai terendus. Ternyata, mereka menggunakan ilmu hanya untuk menjatuhkan lawan.

Perjuangan Sang Syahid Socrates diteruskan oleh Plato, dan berlanjut kepada Aristoteles. Arisoteles adalah tokoh yang merumuskan ilmu tadi dengan matang. Dan dikenal dengan ilmu logika. Tidak sedikitpun ada keraguan akan kecendekiawanan Aristoteles, Jumhur (kebanyakan) sarjana telah mengakuinya. Kehadiran ilmu logika di Yunani, dari runtutan peristiwa; rangkaian sanad ilmu.

Usut punya usut, kelompok sophis terus hidup dari zaman ke zaman. Walau jasad kaum sophis pergi. Sifatnya tetap ada pada diri siapa saja yang mencirikan kaum sophis seperti penjelasan sebelumnya. Lebih-lebih sekarang eranya pemuja gawai, generasi modern-khayali, dan budaya mie instan. Sedikit banyak mengidap kegandrungan kepada para kaum sophis. Suburnya asongan intelektual, dekat dengan kekuasaan agar mesra bersama para politisi. Untuk mendapat apa yang diingini. Tidak percaya lihat saja cetakan pendidikan hasil dunia kampus. walaupun tidak sepenuhnya, selalu ada penerus sang sayid Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Beberapa sumber lain memberikan informasi berbeda. Sebelum Logika dikenal di Yunani ilmu tersebut sudah ada di peradaban timur seperti Mesir, Cina, India, dan Persia. Artikel yang ditulis Mas Zaim Ahya, mengutip kitab berjudul “Nadzam as Sulamul Munauroq fil Mantiq Terjemah-ipun al-Faqir Kiai Bisri Mustofa Rembang” dengan huruf Arab dan Arab pegon.” karya Kyai Mustofa Bisri atau yang lebih akrab dipanggil Gus Mus, berpendapat bahwa dasar-dasar Ilmu Mantiq sudah ada sejak Luqman Hakim atau Nabi Dawud as, kemudian turun temurun sampai ke para filusuf Yunani.

B. Sebab Musabab Kehadiran Ilmu Mantiq dalam Islam

Ilmu mantiq atau logika banyak diingini para pembesar pada masanya, salah satunya khalifah Al-Ma’mun. Seorang Khalifah Abasiyah yang mencintai ilmu. Berawal dari mimpi, Al-Ma’mun bertemu dengan Aristoteles. Semenjak mimpi itu Al-Ma’mun menyuruh para ahli ilmu untuk menerjemahkan karya-karya Yunani. Al-Ma’mun juga membangun “Bait Al-Hikmah” perpustakaan umum; berfungsi sebagai laboratorium dan observatorium intelektual berisikan buku, arsip, dan harta karun pengetahuan lainnya. Memang pada saat kepemimpinan Khalifah Al-Ma’mun; Islam mengalami perkembangan pesat dari sisi keilmuan, hingga diistilahkan era golden age (massa keemasan). Terlepas dari sejarah politik antara khalifah Al-Ma’mun yang memiliki kecendrungan terhadap Mu’tazilah.

Kehadiran ilmu mantiq atau logika dalam keilmuan Islam begitu ramai disambut ada: yang menerima dan menolak. Penerimaan ilmu mantiq terlihat dari respon para ilmuwan islam yang menyaring, merevisi, mendalami, kemudian mengembangkan. Bentuk asli ilmu mantiq atau logika telah berbeda ditangan para ahli ilmuwan Islam. Diantaranya tokoh yang menerima ilmu mantiq dan berperan besar ialah: Ibn Arabi , Ibn Sina, Al-Ghazali, dan Ibn Rusyd. Menurut Imam Al-Ghazali “Siapa yang tidak memahami ilmu mantiq, ilmunya perlu diragukan (mallam yak rif il mal mantiq yusak bi ilmih).” Ilmu Mantiq dapat dielaborasi dengan beragam ilmu: Kalam, filsafat, balaghah, Ushul Fiqh, Fiqh, dan terlebih sosial-politik. Ilmu mantiq adalah pintu awal menuju ilmu-ilmu lainnya.

Pemandangan yang harmonis dalam dinamika keilmuan Islam berhubungan dengan Ilmu Mantiq. Terlihat dari penerimaan dari kalangan lintas mazhab besar Islam yakni mazhab Syiah dan Mazhab Sunni seperti Nashirudin Thusi, Mulla Sadra (Syiah), dan Fakrudin Razi, dan Taqiyudin As-subki (Sunni). Menurut Taqiyudin As-subki dalam salah satu bukunya ia menulis, ilmu mantik itu merupakan salah satu ilmu terbaik dan yang paling bermanfaat dalam segala bidang kajian (min ahsan al-ulum wa anfa’iha fi kulli batshim).

Ilmu mantiq atau logika juga membuka jalan lintas agama. Terbukti dari peran Ishaq Ibn Hunain (The great translator atau Syekh para penerjemah) adalah seorang Nasrani yang memperjuangkan kemajuan ilmu pengetahuan Islam. Abu Bisyr Matta Ibn Yunus seorang filsuf kristen merupakan guru dari Al-Farabi yang berkontirbusi besar membawa karya Aristoteles ke dunia Islam. Adanya lintas hubungan dalam hal keilmuan. Mulai dari lintas mazhab hingga lintas agama. Menegaskan sebagaimana Sabda Rasullullah Saw, “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” Islam adalah nilai, ilmu dan tatanan agung peradaban.

Penolakan ilmu mantiq umumnya dikenal beberapa nama, Ibnu Sholah, Imam Nawai, Ibn Taimyah, Imam As Sirafi. Menurut Imam Nawawi dan Ibnu sholah mempelajari ilmu mantiq haram hukumnya. Karena dapat melemahkan aqidah.

Ilmu mantiq menurut Imam Nawawi dan Ibn Sholah berhubungan erat dengan Mu’tazilah yang dapat merusak aqidah. Pertimbangan mempelajari ilmu mantiq terbagi tiga:

1.Kelompok Ulama yang menyatakan haram seperti Imam Nawawi dan Ibnu Salah.
2.Kelompok Ulama yang berpendapat sunnah seperti Imam Al-Ghazali. Pendapat ini juga sampai mencapai fardu kifayah.
3.Kelompok Ulama yang memperbolehkan asal mempunyai kemantapan aqidah, mengamalkan Al-Quran dan As Sunnah.
 
Pertimbangan penolakan dan penerimaan mempelajari ilmu mantiq, tidak lepas dari kondisi yang terjadi pada saat itu. Tiap hukum yang yang ditetapkan para Ulama selalu mengandung sebab-akibat, keterkaitan ruang-waktu. Dan belum tentu berlaku secara mutlak.

Bersambung….

2 Comments

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.