Friday, 18 Sep 2020
Dedahan Jurnal Prisma Stigma Stigma

Sinau Ilmu Mantiq Bagian II (Lanjutan)



Lanjutan sebelumnya, Klik: bagian dua part 1

C. Dinamika Ilmu Logika di Eropa

Sebelum lonceng perceraian antara ilmu dan agama terjadi di Eropa. Akibat kuasa gereja pada abad kegelapan. Tokoh intelektual ternama yang banyak memainkan peran adalah tokoh yang merangkap seorang alim agama dan ahli ilmu. Siapa yang tak kenal Thomas Aquinas. Beliau adalah seorang Imam Katolik dan Doktor Gereja, yang mumpuni dibidang yuridis, teolog, dan filsafat. Pada masa skolastik, Thomas Aquinas mampu mengawinkan logika aristotelian dengan doktrin kekristenan.

 

Ilmu logika di Eropa pernah berjaya pada masa skolastik. Dan mengalami kemerosotan karena perbedaan dalam memahami logika. Beberapa tokoh pada abad pencerahan; Francis Bacon dan Rene Descartes menolak logika aristotelian (logika deduksi) karena tidak memberikan kontribusi guna menghasilkan pengetahuan baru. Sehingga keduanya mengajukan logika induksi dengan pendekatan saintifik yang saat ini banyak digandrungi dalam metode ilmu pengetahuan “sains.”

 

Penolakan logika aristotelian beralih kepada logika induksi. Menjadi permasalahan baru yang menarik untuk dijelajahi. Karena dalam logika aristotelian mengandung prinsip keniscayaan. Kesimpulan yang bersandar pada ketetapan berdasarkan kaidah rasional. Logika induksi mengacu pada prinsip empiris. Yang terkadang menyalahi prinsip yang dianut dengan isitlah generalisasi. Penyimpulan berdasarkan malu-malu kucing karena menggunakan kaidah rasional.

Perkembangan ilmu logika di Eropa kemudian, dimodifikasi sebagai logika modern atau logika matematis yang dikembangkan oleh, G. Fregee. Dan dilanjutkan oleh White Head serta Berntrand Russel.

D. Menerima atau Menolak Ilmu Mantiq

Kilas potret ringkas kehadiran ilmu mantiq atau logika, mulai dari Yunani, Islam dan Eropa. Memberikan penjelasan yang dapat menjadi pertimbangan untuk mengambil sikap. Bagaimana menerima atau menolak ilmu mantiq. Dengan pertimbangan—pertimbangan rasional dan mandiri.

Ilmu mantiq berkaitan erat dengan upaya memperbaiki daya pikir atau nalar. Sebelum melakukan pembacaan, analisis, perenungan. Kualitas daya pikir atau nalar sangat menentukan setiap pengetahuan, informasi yang masuk untuk diolah. Terutama salah satunya kualitas manusia dinilai berdasarkan kedalaman dan keluasan pikiran. Ilmu mantiq membuat manusia memperbaiki tatanan pikiran dan menyempurnakan nalar.

Keunggulan daya pikir atau nalar daripada indra manusia. Meliputi berbagai keutamaan: pertama, daya pikir mampu melihat objek secara utuh sedangkan indra hanya perbagian saja. Indra melihat objek dengan natural. Kedua, daya pikir atau nalar mampu menyimpulkan sesuatu kejadian yang belum terjadi dengan prediksi. Ketiga, daya pikir atau nalar mampu menyimpan, mengingat, merekam, mengkategori. Keempat, daya pikir atau nalar mampu menyingkap tanda dibalik objek. Kelima, daya pikir atau nalar tidak terhalangi oleh jarak pandang terhadap objek yang dekat ataupun jauh. Dengan menerima bahkan mempelajari ilmu mantiq, daya pikir atau nalar manusia mengalami perkembangan yang mampu menghidupkan potensi yang terpendam. Semacam gerak subtanstif yang terjadi pada mental.

Saat ini masih banyak generasi yang mewarisi sifat-sifat kaum shopis layaknya asongan intelektual memperjual belikan ilmu. Yang mestinya tidak dilakukan oleh penuntut ilmu dan ahli ilmu. Asongan intelektual ini menyebar dimana-mana di pangung akademisi, berdampingan mesra dengan para politisi, dan penganjur agama yang salah kaprah. Dengan itu, Ilmu mantiq akan selalu dibutuhkan untuk menghadapi para pewaris kaum sohpis tersebut.

Gelombang tsunami informasi menyebabkan masyarakat bingung; memilah, memilih. Cenderung mengakibatkan sikap latah, lebih cepat mempercayai dan menghakimi. Maka, Tidak ada jalan lain selain kembali membumikan ilmu mantiq sebagai metodologi yang kokoh dan menjadikannya tradisi pendidikan yang hidup di masyarakat. Agar masyarakat tetap menjaga kewarasan di tengah kepungan orang-orang yang diet otak malas berpikir. Tidak cepat mempercayai orang-orang yang mendadak muncul di dunia maya sebagai pakar. Namun sebenanya mereka bukan ahli ilmu malah jauh dari tindakan yang mencerminkan pertangung jawaban keilmuan.

Terkhusus bagi umat Islam Indonesia yang acap kali mendengar teriakan nyaring “traktir-traktir” untuk kembali pada Al-Quran dan hadits. Mau untuk lebih dahulu memikiran; sering-sering merenungkan dengan pikiran jernih dan hati yang bersih. Agar emosi tidak mendahului pikirannya (tanpa bermaksud menyingung golongan manapun). Karena masyarakat yang diajak kembali, bingung dengan apa dan jalan yang mana mereka kembali. sedangkan Al-Quran dan hadits khazanah mulia Islam. Pastinya memerlukan kualitas mumpuni untuk mengkajinya.

Untuk kembali kepada Al-Quran dan Hadits, Islam mempunyai warisan kekayaan khazanah ilmu bermacam-macam: Ilmu mantiq, filsafat, tasawuf, irfan, balaghah, tafsir, ta’wil, dan lain sebagainya. Yang dapat memperbaiki dan meningkatkan kemampuan daya pikir untuk menikahkanya dengan khazanah mulia Islam berupa Al-Quran dan hadits. Agar tidak menafsirkan berdasarkan pemahaman yang dangkal. Terlebih ilmu mantiq tidak seperti yang dikkhawatirkan banyak orang. Ilmu mantiq adalah ilmu alat yang tidak terikat dengan ideologi manapun.

Memungut serpihan mutiara ilmu dari Sayidina Ali karramallahu wajhah yang bertitah; “Ilmu itu milik kami dan harta itu milik musuh kami, karena sungguh harta itu akan sirna. Sedangkan ilmu akan kekal tidak pernah hilang.”

Masihkah ada ragu; menerima terlebih mau mempelajari ilmu mantiq atau logika. Ataupun lebih memilih menolaknya ? semua itu kembali kepada sidang pembaca yang budiman nan arif, syukur-syukur kalau mungkin berkenan merenungkan.

Wallhualam Bhisohwab….

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.