Friday, 10 Jul 2020
Padhang Bulan Padhang Jingglang Prisma Stigma Stigma

Berguru Pada Kesalahan



Kesalahan bagi manusia merupakan ayat-ayat sejarah dalam perjalanan kehidupan yang menjadi catatan dan peringatan. Manusia dapat menyikapinya dengan membentangkan cara pandang. Menafsirkan kesalahan, sesuai keluasan dan kedalaman horizon serta cakrawala yang ia punya. Kesalahan dapat mengembalikan pada azali dirinya. Ataupun sebaliknya, membuatnya terhempas pada rentang jauh–kehilangan asalnya.

Kesalahan seperti dua sisi pedang tajam. Disatu sisi dapat menikam kesadaran, disisi lain dapat menebas kepalsuan; terbebas dari belenggu-belenggu palsu pemikiran. Dengan berjabat tangan mengenali dan menerima kesalahan adalah langkah awal mendidik, menyucikan, dan memperbaiki diri. Manusia akan bergerak maju mengalami perubahan kediriannya. Gerak jiwa yang selama ini telah mandek (terhenti).

Semakin intens perenungan yang manusia lakukan. Maka, semakin banyak endapan kesalahan  yang akan menggenang pada dirinya. Saat merenung, Ia akan membagi dirinya menjadi dua bagian. Yang sebenarnya terdiri satu kesatuan antara subjek dan objek. Saling bertanya dan berbicara, membaca mengenai perbuatan yang ia lakukan selama hidupnya.

Namun sebelum berlanjut, agar tidak salah kaprah. konsep kesalahan yang dipahami untuk membaca tulisan ini, bukanlah dengan prinsip perimbangan. Artinya, semakin banyak kesalahan. Semakin banyak pula pelajaran yang didapat. Atau malah menjadikan tulisan ini, sebagai landasan untuk melakukan kesalahan-kesalahan berikutnya. Sebaliknya tulisan ini, bertujuan mengurai kesalahan sehingga tidak terulangi kembali.

Kesalahan itu begitu beragam. Salah satunya ialah kesalahan yang terjadi karena melukai hati sesama manusia (terlebih jika itu hati perempuan). Kesalahan itu akan semakin nampak pada diri manusia apabila tabir (hijab) ke-aku-an, sedikit demi sedikit tersingkap. Seperti keindahan cahaya purnama yang muncul di gelap pekatnya malam.

Purnama dalam dalam maddah atau syair berjudul Ya Badrotim

“Wahai Purnama”, dari Kitab Maulid Ad-Diba’i karya Al Imam Wajihuddin Abdur Rahman. Kutipan dari bait syair Ya Badrotim, mempunyai arti mendalam. Seperti bait syair di bawah ini :

“Wahai purnama kesempurnaan yang telah mencapai puncak kesempurnaan. Ungkapan apa yang dapat aku katakan untuk menguraikan keluhuranmu”.

“Engkaulah yang terbit di ufuk ketinggian, dengan cahayamu engkau lenyapkan kesesatan”.

“Dengan kehadiranmu semesta raya menjadi terang benderang, dengan cahaya, kenikmatan, serta keutamaanmu, wahai panji-panji petunjuk”.

Cahaya purnama itu hadir di dalam diri. Perasaan dan pikiran manusia untuk mengakui kesalahan-kesalahan yang ia perbuat selama ini. Walaupun rangkaian ini mungkin kurang tepat. Namun itulah perasaan beberapa manusia yang berharap, akan “penjelmaan keindahan “cahaya purnama”. Cahaya purnama ialah Baginda Nabi Muhammad SAW yang berkenan hadir, bertamu, dan berada pada tiap hati manusia. Menurut seorang budayawan (dalam arti luas) yang akrab dipanggil Mbah Nun oleh, Jamaahnya “Maiyah”.  Gusti Allah tuan rumahnya dan Kanjeng Nabi penjaganya”.

Maka, hati ialah cerminan dan manifestasi illahi. Ruang dimana Tuhan menjaga hubungan keromantisan dengan hambanya. Waktu dimana keharmonisan Tuhan menjelma. Melukai hati manusia sama dengan menyakiti Tuhan. Dalam film Bollywod “Rab ne Bana Di Jodi”, ada sebuah untaian kalimat yang begitu indah, “tujh mein rab dikhta”.  Dalam bahasa indonesia artinya “aku melihat Tuhan dalam dirimu”.

Bayangkan saja, jika hal ini dapat diketahui manusia umumnya, terkhusus laki-laki ketika melihat perempuan. Melihat keindahan yang ada pada perempuan, sama dengan melihat keindahan Tuhan (pastinya melampaui persepsi indrawi). Tidak salah, apabila Ibn Arabi yang bergelar Mua’lim Tsani (guru kedua) dalam gagasan Wahdatul Wujud (kesatuan wujud) dan Wahdatul Adyan (kesatuan agama). Beranggapan bahwa perempuan adalah Tajjali keindahan Tuhan. Oleh karenanya, kesalahan telah memberikan pelajaran terhadap laki-laki memahami arti lain dari perempuan.

kesalahan adalah salah satu guru kehidupan manusia. Dalam kisah-kisah para sufi agung. dan cerita-cerita para pelaku tasawuf. Serta untaian-untaian karya sastra yang ada dalam khazanah Islam. Kesalahan yang terbit dari orbit kesadaran manusia adalah matahari kewarasan akal budi. Pendaran seberkah cahaya hidayah dan inayah yang tak ternilai harganya. Dengan menyadari kesalahan. Seorang manusia dapat menemui guru sejati dalam dirinya. Mengenali kelemahan, memahami batasan, dan semakin mengerti arti kepasrahan. Sehingga semua itu membuat manusia menjaga hubugannya melalui laku dzikir dan pikir, seperti yang termaktub dalam ayat Al-Quran dalam surat al-Imran 190-191 :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191)

Allahuma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad Wa ‘Ala Ali Sayyidina Muhammad.

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.